Makassar, allnatsar.id — Memasuki 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan, masyarakat mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menyambut Idul Fitri. Pusat perbelanjaan dipadati warga yang mencari pakaian baru, termasuk kalangan generasi muda. Fenomena ini terlihat jelas di beberapa Kota di Indonesia terutama di Makassar, di mana tren berbelanja menjelang lebaran menjadi bagian dari budaya tahunan.
Bagi generasi muda, tentu mengenakan baju baru saat Idul Fitri menjadi simbol kebahagiaan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Namun, di balik tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendalam: apakah makna kemenangan Ramadhan hanya sebatas penampilan luar, atau justru perubahan dalam diri?
Sepuluh hari terakhir Ramadhan dikenal sebagai masa paling istimewa karena diyakini terdapat malam penuh kemuliaan, yaitu Lailatul Qadar. Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW justru meningkatkan kualitas ibadahnya pada malam-malam tersebut, memperbanyak doa, zikir, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Jika dikaitkan dengan kondisi generasi muda di Makassar saat ini, momentum ini menjadi refleksi penting. Sebagian generasi muda menghadapi tantangan sosial seperti gaya hidup konsumtif, pengaruh media sosial, hingga minimnya ruang refleksi diri di tengah aktivitas yang serba cepat. Di sisi lain, pemuda Makassar juga dikenal memiliki potensi besar dalam gerakan sosial, komunitas kreatif, hingga kegiatan keagamaan yang berkembang di berbagai masjid dan kampus.
Karena itu, 10 hari terakhir Ramadan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk mempersiapkan pakaian baru, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbarui karakter dan integritas diri. Bagi generasi muda, ini bisa dimulai dari hal sederhana: memperbaiki kebiasaan, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan kualitas ibadah dan kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Makassar sebagai kota yang dinamis membutuhkan generasi muda yang bukan hanya tampil baik secara lahiriah, tetapi juga memiliki nilai moral dan spiritual yang kuat. Pribadi yang baru—lebih disiplin, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab—akan jauh lebih bermakna dibanding sekadar penampilan baru saat hari raya.
Pada akhirnya, ketika takbir berkumandang menandai datangnya Idul Fitri, yang seharusnya dirayakan bukan hanya baju yang baru dikenakan, tetapi juga hati dan sikap yang telah diperbarui oleh perjalanan spiritual selama Ramadhan.
Dengan demikian, bagi pemuda Makassar, pilihan di 10 hari terakhir Ramadhan menjadi jelas, tidak hanya mengejar baju baru, tetapi juga berusaha menjadi pribadi yang benar-benar baru setelah Ramadhan berakhir.
(Oleh Akhmad Kurnia N – Akademisi UIT Makassar)