Ketika Asap dari Seberang Pulau Sampai ke Langit Makassar

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Asikin Muchtar (Akademisi Universitas Indonesia Timur)

Makassar, allnatsar.id – Beberapa pekan terakhir, warga Makassar disuguhi pemandangan yang tidak lazim. Langit yang biasanya cerah dan biru pada musim kemarau kini tampak kelabu, tertutup lapisan kabut tipis yang berbau asap.

Matahari pagi terlihat pucat, dan jarak pandang menurun. Sejumlah instansi dan lembaga pemerhati lingkungan mengimbau warga memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Hampir seluruh sekolah, dari SD, SMP, hingga SMA, meminta siswanya memakai masker. Di sisi lain, suhu udara kota ini menyentuh 36 derajat Celsius, padahal Oktober biasanya menjadi bulan yang ditunggu karena hujan mulai turun. Tanda-tandanya belum tampak.

Kabut asap ini bukan fenomena lokal. Ia adalah kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan dan Papua. Jarak ribuan kilometer ternyata tidak cukup untuk menahan dampaknya. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa nasib kita jika kondisi ini berlangsung setiap hari?

Ketika hutan dan lahan gambut terbakar, yang naik ke udara bukan sekadar asap yang terlihat. Pembakaran biomassa melepaskan gas seperti karbon monoksida dan karbon dioksida, serta partikel halus yang dikenal sebagai PM2,5, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, jauh lebih kecil daripada diameter sehelai rambut.

Karena sangat kecil, partikel ini mudah terbawa angin dalam jarak jauh, dan mudah pula masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Lahan gambut menjadi persoalan tersendiri. Gambut yang terbakar bisa membara di bawah permukaan selama berminggu-minggu, menghasilkan asap pekat yang sulit dipadamkan.

Di musim kemarau panjang, hutan yang kering, lahan yang dibuka dengan cara dibakar, dan angin yang kuat membuat api mudah meluas dan asapnya menjangkau wilayah yang jauh dari sumbernya.

Itulah sebabnya langit Makassar bisa ikut menanggung beban dari pulau lain.
Dari sudut pandang kehutanan, ini adalah gejala dari persoalan yang lebih besar: hutan yang terdegradasi, lahan yang dikeringkan, dan tata kelola api yang belum sepenuhnya terkendali.

Setiap tahun kita mengulang pola yang sama, dan setiap tahun yang menanggung akibatnya adalah masyarakat luas, termasuk mereka yang tidak pernah menyalakan api.

Imbauan memakai masker adalah langkah yang tepat, tetapi perlu dipahami batasnya. Masker kain biasa hanya menyaring partikel yang lebih besar dan kurang efektif menahan PM2,5.

Masker yang lebih layak adalah jenis N95 atau KN95 yang dipakai dengan benar, artinya menempel rapat di wajah tanpa celah. Masker yang longgar memberi rasa aman, tetapi perlindungannya jauh berkurang.

Ada juga soal kenyamanan. Anak-anak yang memakai masker berjam-jam di tengah suhu 36 derajat Celsius akan mudah gerah dan sesak. Karena itu, masker sebaiknya dipakai terutama saat berada di luar ruangan, sementara di dalam ruangan upaya yang lebih penting adalah menjaga kualitas udara: menutup celah masuknya asap, menghindari sumber asap tambahan seperti pembakaran sampah, dan bila memungkinkan memakai penyaring udara.

Baca Juga :  Diplomasi Strategis: Makna Kedatangan Macron dan Pertemuan dengan Prabowo

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak. Napas mereka lebih cepat dan paru-parunya masih berkembang, sehingga paparan asap per kilogram berat badan lebih besar dibandingkan orang dewasa. Gejala yang sering muncul antara lain batuk, mata perih, tenggorokan kering, sakit kepala, hingga kambuhnya asma dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, dampaknya tidak hanya pada kesehatan. Anak yang sering sakit akan sering absen, dan konsentrasi belajar menurun. Kegiatan di luar kelas seperti olahraga, upacara, dan bermain saat istirahat perlu dikurangi pada hari-hari ketika udara memburuk.

Sekolah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas: kapan kegiatan luar ruang ditiadakan, kapan pembelajaran dialihkan sementara ke daring, dan bagaimana anak dengan riwayat asma mendapat perhatian khusus. Keputusan semacam ini idealnya bersandar pada data kualitas udara, bukan sekadar perkiraan visual.

Orang dewasa pun tidak kebal. Pegawai pemerintah, dosen, dan karyawan swasta menghadapi tantangan yang sama, hanya bentuknya berbeda. Bagi pegawai kantoran, perjalanan pergi-pulang di tengah asap dan panas menambah beban fisik. Kelelahan, sakit kepala, dan menurunnya konsentrasi dapat mempengaruhi produktivitasnya. Bagi dosen, kegiatan perkuliahan, bimbingan, dan kerja lapangan ikut terganggu.

Ruang kuliah yang padat dan kurang ventilasi membuat asap yang masuk sulit keluar, sementara praktik lapangan di luar ruangan menjadi berisiko. Pekerja sektor informal dan mereka yang bekerja di luar ruangan, seperti pengemudi ojek, pedagang kaki lima, dan buruh bangunan, berada pada posisi paling berat karena tidak bisa begitu saja berhenti bekerja.

Lembaga pemerintah dan perusahaan perlu mulai memikirkan fleksibilitas: jam kerja yang lebih adaptif, opsi bekerja dari rumah pada hari-hari udara buruk, penyediaan masker yang layak bagi pekerja lapangan, serta ruang kerja yang udaranya terjaga. Mereka yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, ibu hamil, dan lansia perlu mendapat perhatian lebih.

Asap dan panas adalah kombinasi yang melelahkan. Suhu tinggi membuat tubuh lebih mudah dehidrasi, dan udara yang tercemar membuat pernapasan lebih berat. Keduanya saling memperburuk, terutama bagi anak, lansia, dan pekerja luar ruangan.

Hujan sebenarnya adalah penolong alami. Air hujan membantu menjatuhkan partikel dari udara, menurunkan suhu, dan membasahi lahan sehingga api lebih sulit menyala.

Baca Juga :  Ketua Fortanas Makassar: Jangan Terjebak Isu Liar, Percayakan Kepemimpinan Prabowo-Gibran

Namun hujan yang diharapkan pada Oktober ini belum menunjukkan tanda-tanda. Selama kemarau berlanjut, asap akan bertahan lebih lama dan sumber api baru lebih mudah muncul.

Warga sebaiknya terus mengikuti informasi dari BMKG mengenai prakiraan cuaca dan perubahan musim, karena waktu datangnya hujan bisa bergeser dari kebiasaan tahun-tahun sebelumnya.

Bila kabut asap menjadi “normal baru”, konsekuensinya berlapis. Pertama, beban kesehatan masyarakat naik: lebih banyak kasus ISPA, lebih banyak kunjungan ke fasilitas kesehatan, dan biaya pengobatan yang membengkak.

Kedua, proses belajar-mengajar terganggu karena sekolah dan kampus harus berulang kali menyesuaikan jadwal. Ketiga, produktivitas ekonomi menurun, mulai dari pekerja yang sakit hingga aktivitas usaha yang melemah. Keempat, transportasi dapat terganggu bila jarak pandang buruk.

Yang tidak kalah pentingnya adalah kita perlu menyadari bahwa paparan jangka panjang terhadap udara tercemar berkaitan dengan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang lebih serius. Karena itu, persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai gangguan sesaat yang akan hilang sendiri.

Untuk jangka pendek, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan:

  • Pantau kualitas udara melalui data resmi seperti ISPU dan informasi BMKG, lalu sesuaikan aktivitas dengan kondisi hari itu.
  • Gunakan masker yang sesuai, dan pakai dengan benar saat harus beraktivitas di luar ruangan.
  • Kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada hari udara buruk, terutama untuk anak-anak.
  • Perbanyak minum air putih dan istirahat cukup, mengingat suhu yang tinggi.
  • Jangan menambah asap: hindari membakar sampah atau lahan di sekitar tempat tinggal.
  • Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, atau gejala yang memburuk.

Untuk jangka panjang, pekerjaan rumahnya ada di hulu. Pencegahan karhutla harus lebih diutamakan daripada pemadaman: penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, pengelolaan dan pembasahan kembali lahan gambut, patroli dan sistem peringatan dini di tingkat tapak, serta pelibatan masyarakat sekitar hutan melalui skema seperti perhutanan sosial agar mereka menjadi penjaga hutan, bukan korban sekaligus pelaku yang terdesak keadaan.

Rehabilitasi hutan dan lahan kritis, termasuk di Sulawesi Selatan sendiri, juga penting agar daerah kita lebih tangguh menghadapi musim kering yang ekstrem.

Terakhir, langit Makassar yang berkabut hari ini adalah pengingat bahwa hutan tidak mengenal batas administrasi. Api yang menyala di Kalimantan dan Papua bisa mengubah udara yang dihirup anak-anak kita di Makassar.

Masker dan imbauan adalah pertolongan pertama, tetapi penyelesaian sesungguhnya terletak pada menjaga hutan dan lahan agar tidak terbakar sejak awal. Menjaga hutan berarti menjaga napas kita bersama.

Berita Terkait

Maknai Indonesia Berdaulat dan Makmur, Iptu Samoddin Tekankan Pentingnya Keselamatan Berkendara
Pemuda Makassar Sarankan Pemerintah Kota Makassar Siapkan Tempat Sampah Terpilah bagi Masyarakat
Menjelang Musda Golkar Sulawesi Selatan: Azimat Sakti Versus Diskresi Ketua Umum, Menakar Peluang IAS dan Appi dalam Perspektif Sosiologi Politik
80 Tahun Mengabdi: UU Baru dan Momentum POLRI Kembali ke Khittah Pengayom Masyarakat
Jeneponto Melesat, Angka Kemiskinan Ekstrem Turun Drastis di Bawah Kepemimpinan Paris Yasir
Menaklukkan Shadow Economy: Langkah Strategis RAPBN 2026 dan Urgensi Satgas Khusus di Bawah Presiden
Andi Gunaldi Ketua RW 5 Kel.Bangkala, Kec Manggala Jagokan Argentina di Piala Dunia 2026
Manifesto Keikhlasan di Tanah Turatea
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:19 WIB

Ketika Asap dari Seberang Pulau Sampai ke Langit Makassar

Senin, 17 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Maknai Indonesia Berdaulat dan Makmur, Iptu Samoddin Tekankan Pentingnya Keselamatan Berkendara

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:15 WIB

Pemuda Makassar Sarankan Pemerintah Kota Makassar Siapkan Tempat Sampah Terpilah bagi Masyarakat

Selasa, 7 Juli 2026 - 13:16 WIB

Menjelang Musda Golkar Sulawesi Selatan: Azimat Sakti Versus Diskresi Ketua Umum, Menakar Peluang IAS dan Appi dalam Perspektif Sosiologi Politik

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:08 WIB

80 Tahun Mengabdi: UU Baru dan Momentum POLRI Kembali ke Khittah Pengayom Masyarakat

Berita Terbaru

Opinion

Ketika Asap dari Seberang Pulau Sampai ke Langit Makassar

Kamis, 15 Okt 2026 - 20:19 WIB