Penulis: Dr. Lince Bulutoding, SE., M.Si., Ak., CA., PCIF., SAS
Dosen Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Tana Toraja, allnatsar.id — Mengapa sebuah tempat di Sangalla Utara bernama Kalolok? Jawabannya tersimpan dalam kisah seorang perantau dari Tanamalia bernama Pong Sampun. Ia membuka tanah baru, memberinya nama tempat asalnya, lalu mendirikan sebuah tongkonan yang hingga kini masih berdiri: Tongkonan Kalolok Pong Sampun.
Masa Membuka Kampung Baru
Menurut penuturan keluarga, kisah ini bermula setelah masa To Pada Tindo berakhir. Pada masa itu, setiap orang diberi keleluasaan dan kewenangan untuk membuka dan membangun kampung di wilayah yang belum berpenghuni.
Kesempatan inilah yang diambil Pong Sampun. Ia berangkat dari Tanamalia (Tanah Malia) menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Kalolok, di Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla Utara, Kabupaten Tana Toraja.
Pangngala Tondok, Sang Pembuka Kampung
Pong Sampun menjadi orang pertama yang membuka tanah di Kalolok dan sekitarnya. Dalam adat Toraja, orang seperti ini disebut Pangngala Tondok, yaitu orang yang pertama kali membuka dan mengolah tanah di suatu daerah. Gelar ini menempatkan Pong Sampun sebagai leluhur pendiri bagi kampung tersebut dan bagi keturunannya.
Membawa Nama Kampung Halaman
Hal yang paling menarik dari kisah ini adalah nama Kalolok itu sendiri. Nama Kalolok di Lembang Saluallo ternyata sama dengan nama daerah asal Pong Sampun di Tanamalia.
Seperti banyak perantau yang membawa kenangan kampung halamannya, Pong Sampun memberi tanah barunya nama yang sama dengan tempat asalnya.
Bagi keluarga, kesamaan nama ini bukan kebetulan. Nama itu menjadi jejak perjalanan Pong Sampun dari Tanamalia ke Sangalla Utara, sekaligus penanda bahwa dialah pembuka kampung Kalolok dan pendiri tongkonan di sana.
Membangun Tongkonan dan Kehidupan
Bersama istrinya, Lai’ Bulaan, Pong Sampun mendirikan tongkonan yang kemudian dikenal sebagai Tongkonan Kalolok Pong Sampun. Letaknya di Jl. Goali Bassi, Rukun Pasang, Lembang Saluallo.
Tongkonan tidak berdiri sendiri. Di sekelilingnya, Pong Sampun dan Lai’ Bulaan membangun lingkungan yang menopang kehidupan keluarga, yaitu:
- Sawah dan tanah kering untuk bercocok tanam;
- Sumur sebagai sumber air;
- Kebun yang disebut kombong;
- Padang tempat kerbau digembalakan;
- Tanah yang disebut pantunuan; dan
- Liang (makam) tempat Pong Sampun kemudian dimakamkan.
Memenuhi Syarat Sebuah Tongkonan
Dalam adat Toraja, sebuah tongkonan dikenal memiliki Tallu Baka atau Tallu Silolok, yaitu tiga hal yang menopang kehidupan keluarga: bida (keturunan), manarang (kepandaian), dan sugi’ (kekayaan).
Selain itu, ada pula Tallu Lolona, yaitu tiga unsur kehidupan: Lolo Tau (manusia), Lolo Patuan (hewan), dan Lolo Tananan (tumbuhan). Ketiganya hadir di Tongkonan Kalolok Pong Sampun: keturunan yang terus bertambah, kerbau yang digembalakan, serta sawah dan kebun yang diolah turun-temurun.
Dari Satu Langkah Menjadi Sebelas Generasi
Perjalanan Pong Sampun dari Tanamalia ke Kalolok kini telah melahirkan sebelas generasi keturunan. Mereka tersebar di Toraja maupun di perantauan, tetapi tetap mengenal Kalolok sebagai asal-usul mereka.
Setiap kali nama Kalolok disebut, keturunannya diingatkan pada sosok leluhur yang berani meninggalkan kampung halaman, membuka tanah baru, dan membangun rumah bagi anak cucunya.







