Marwati Sumardi: Mundurnya Saraswati Adalah Pukulan Bagi Perjuangan Perempuan di Parlemen

- Jurnalis

Jumat, 12 September 2025 - 13:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makassar, allnatsar.id – Langkah mundur Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dari kursi DPR RI menyisakan kegelisahan besar, terutama bagi gerakan perempuan. Perempuan muda yang selama ini dikenal vokal membela isu kesetaraan gender dan keberpihakan pada kelompok rentan itu, kini tak lagi berada di Senayan.

Keputusan Sara yang disampaikan lewat unggahan video di Instagram, Rabu (10/9/2025), bukan hanya soal urusan pribadi. Bagi banyak kalangan, mundurnya politisi Partai Gerindra ini adalah kehilangan bagi perempuan Indonesia.

Ketua Kohati HMI Cabang Makassar, Marwati Sumardi, menegaskan bahwa absennya Sara di parlemen akan membuat perjuangan perempuan semakin berat.

“Kehadiran perempuan di parlemen bukan sekadar simbol, tetapi ruang penting untuk memastikan kebijakan berpihak pada hak-hak perempuan. Mundurnya Mbak Sara adalah kehilangan besar, karena ia mampu membawa suara perempuan masuk dalam ruang-ruang pengambilan keputusan,” ujar Marwati.

Menurut Marwati, Sara selama ini konsisten memperjuangkan isu kesetaraan, mulai dari perlindungan terhadap perempuan korban kekerasan, penguatan hak-hak penyandang disabilitas perempuan, hingga membuka ruang partisipasi politik bagi anak muda.

Baca Juga :  Pemkot Makassar Jemput Bola, Wali Kota dan Wawali Diskusi Terbuka dengan HMI

“Kalau perempuan tidak ada di parlemen, maka aspirasi kita rawan diabaikan. Padahal, Indonesia membutuhkan lebih banyak legislator perempuan yang berani bersuara lantang,” tambahnya.

Baca Juga :  Geger: Surat HMI Minta Pinjam Hotel Gratis, "HMI Lain Ancam Demo"

Di sisi lain, Fraksi Gerindra memilih menghormati keputusan Sara. Meski demikian, Marwati menilai partai politik seharusnya memberi ruang lebih besar kepada kader perempuan untuk tampil, bukan justru kehilangan sosok penting.

Kini, pertanyaan besar menggantung: apakah suara perempuan akan semakin meredup di parlemen pasca-mundurnya Saraswati? Ataukah justru momentum ini bisa membangkitkan kesadaran baru bahwa keterwakilan perempuan di politik adalah kebutuhan mendesak, bukan pilihan tambahan?(*)

Berita Terkait

Di Forum Makassar on the Move: Appi Menata Mobilitas Kota yang Inklusif dan Berkelanjutan
Ketua DPP PSI Kaesang Pangarep Tiba di Makassar, PSI Sulsel Siapkan Kejutan
Lewat Diplomat Day, Pemkot Makassar Ajak Dunia Mengenal Pesona Maritim dan Sunset Losari
Wali Kota Munafri Hadir di APCAT Summit, Perkuat Posisi Makassar dalam Isu Kesehatan Global
Munafri–Aliyah Kompak Hadiri Muscab Hanura Makassar, Tegaskan Komitmen Kolaborasi Lintas Partai
Satu Tahun Kepemimpinan Appi: Makassar Menyala di Panggung Kota Dunia, Program RISE Raih Penghargaan Internasional
Kepala Diskominfo Makassar, Muhammad Roem Dinobatkan Emerging Leader oleh Konsulat Australia
ZZ Travel Perkuat Layanan Umrah Sesuai Sunnah, Aslail Akbar: Jamaah Harus Tenang dan Terlayani
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 03:47 WIB

Di Forum Makassar on the Move: Appi Menata Mobilitas Kota yang Inklusif dan Berkelanjutan

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:33 WIB

Ketua DPP PSI Kaesang Pangarep Tiba di Makassar, PSI Sulsel Siapkan Kejutan

Senin, 26 Januari 2026 - 16:43 WIB

Wali Kota Munafri Hadir di APCAT Summit, Perkuat Posisi Makassar dalam Isu Kesehatan Global

Senin, 26 Januari 2026 - 11:52 WIB

Munafri–Aliyah Kompak Hadiri Muscab Hanura Makassar, Tegaskan Komitmen Kolaborasi Lintas Partai

Senin, 26 Januari 2026 - 11:47 WIB

Satu Tahun Kepemimpinan Appi: Makassar Menyala di Panggung Kota Dunia, Program RISE Raih Penghargaan Internasional

Berita Terbaru