BONE, allnatsar.id—Sekretaris Umum HMI KOM. PERTANIAN UMI, Muh Fajar menyoroti distribusi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Labuaja, Desa Labuaja, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone. Muncul dugaan adanya pembelian BBM dalam jumlah besar atau secara berulang yang kemudian dijual kembali secara eceran dengan harga lebih tinggi.
Informasi yang diterima redaksi menyebutkan, terdapat dugaan BBM yang diperoleh dari SPBU Labuaja kemudian ditampung oleh oknum tertentu untuk dijual kembali. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap ketersediaan BBM bagi masyarakat yang hendak membeli langsung di SPBU dengan harga resmi.
“Diduga ada penampungan BBM di Labuaja oleh oknum. Akibatnya, pengecer menjual BBM dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter,” kata Muh Fajar kepada redaksi, Kamis (27/8/2026).
Menurut Muh Fajar, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Tingginya harga BBM di tingkat pengecer dinilai semakin memberatkan masyarakat, khususnya ketika pasokan BBM di SPBU sulit diperoleh.
Jarak dan kondisi akses menuju SPBU juga menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Ketika BBM sulit diperoleh di SPBU, warga pada akhirnya memiliki pilihan terbatas dan terpaksa membeli dari pengecer meski dengan harga yang lebih tinggi.
Keluhan terkait harga dan distribusi BBM di wilayah Labuaja dan sekitarnya bukan kali pertama muncul. Pada April 2026, harga Pertalite di wilayah tersebut juga pernah dilaporkan mencapai Rp20.000 per liter. Saat itu, persoalan distribusi BBM turut menjadi keluhan masyarakat.
SPBU Labuaja menjadi salah satu akses masyarakat untuk memperoleh BBM, termasuk warga dari wilayah sekitar Kecamatan Kahu dan Kecamatan Patimpeng. Kelancaran distribusi BBM di SPBU tersebut dinilai penting karena sebagian masyarakat menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian dan perkebunan.
Di tengah munculnya keluhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bone pada 25 Agustus 2026 membentuk tim satuan tugas untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM dan elpiji. SPBU Labuaja termasuk salah satu titik yang menjadi sasaran pengawasan.
Muh Fajar berharap pihak terkait, termasuk Pertamina dan aparat penegak hukum, dapat melakukan pengecekan langsung terhadap distribusi BBM di SPBU Labuaja.
“Kami berharap ada pengecekan langsung agar distribusi BBM benar-benar sesuai ketentuan dan masyarakat bisa mendapatkan BBM dengan harga resmi,” ujarnya.
Dugaan mengenai pembelian BBM dalam jumlah besar, pembelian secara berulang, maupun penampungan BBM tersebut masih memerlukan verifikasi dari pihak berwenang.
Redaksi membuka ruang konfirmasi dan klarifikasi bagi pengelola SPBU Labuaja, Pertamina, maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi distribusi BBM di wilayah tersebut.







