Makna Sholat Istighotsah, Zikir Dan Doa Bersama; Dari Selayar Untuk Keselamatan Bangsa, “Oleh Muhamad Arsat”

- Jurnalis

Senin, 1 September 2025 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selayar, allnatsar.id – Masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar sangat prihatin dengan demonstrasi dan korban aktivis dari demonstrasi yang berlangsung bulan Agustus dan mungkin berlanjut sampai bulan September tahun 2025. Dalam benak masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, demonstrasi yang disertai pembakaran (seperti pembakaran fasilitas umum, atau gedung telah menandakan eskalasi konflik dan ancaman terhadap negara Indonesia. Hal ini menimbulkan ketegangan antara warga sipil dan aparat keamanan, kondisi tidak aman di masyarakat, terutama di sekitar lokasi kejadian dan polarisasi di masyarakat antara yang mendukung aksi dan yang menolak.

Refleksi atas kejadian tersebut, masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar melakukan sholat istighosah, zikir dan dan doa pada tanggal 1 September 2025, untuk mengetuk pintu langit dan meminta agar Allah SWT memberikan rahmatnya. Karena pada dasarnya, kematian bukan hanya peristiwa biologis, melainkan juga realitas sosial dan spiritual yang mendalam dalam kehidupan manusia. Dalam tradisi Islam, sholat istighosah, zikir dan doa untuk orang yang telah meninggal menjadi bentuk penghormatan dan cinta yang tak putus. Lebih dari sekadar ritual, ia menjadi jembatan antara dunia yang fana dan yang kekal, serta menyimpan harapan akan kedamaian, bukan hanya bagi individu, tapi juga bagi bangsa secara kolektif.

Agar memahami makna lebih dalam dari praktek sholat istighosah, zikir dan doa ini, kita bisa melihat dari perspektif dua tokoh penting dalam antropologi yaitu Bronisław Malinowski dan Victor Turner. Dengan menggunakan perspektif Bronisław Malinowski, sholat istighosah, doa dan Zikir sebagai fungsi psikologis dan sosial yang hadir melalui ritual dan agama yang memiliki fungsi utama untuk mengatasi ketidakpastian dan kegelisahan manusia. Dalam konteks kematian, manusia sering menganggap tidak berdaya, sedih, bahkan takut. Sholat istighosah, zikir dan doa bagi yang telah meninggal dalam pandangan Malinowski, bekerja sebagai mekanisme untuk mengurangi kecemasan tersebut. Dengan kata lain, sholat istighosah, zikir dan doa mampu memberikan tiga fungsi yaitu memberikan ketenangan batin bagi keluarga yang ditinggalkan; meneguhkan keyakinan bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia; dan menghadirkan struktur sosial yang menyatukan keluarga dan komunitas dalam momen berkabung.

Baca Juga :  Demonstrasi, Nalar Massa dan Api. Tinjauan kritis Muhamad Arsat

Bagi Malinowski, ritual-ritual ini menjaga kohesi sosial dalam menghadapi ketidakpastian masa depan bangsa. Lebih luas lagi, ketika sholat istighosah, zikir dan doa dilakukan dalam skala lokal dan kolektif seperti yang dilakukan di Lapangan Pemuda Benteng yang dipimpin oleh ketua MUI Kabupaten Kepulauan Selayar untuk mengenang korban aktivis dan kegelisahan terhadap kondisi bangsa, berfungsi memperkuat solidaritas, harapan dan kedamaian.

Selain itu, antropolog Victor Turner menyatakan secara implisit sholat istighosah, zikir dan doa sebagai “proses liminal dan komunitas Spiritual”. Melalui konsep liminalitas—fase transisi dalam ritus peralihan—dan komunitas, yaitu rasa kebersamaan mendalam yang melampaui struktur sosial formal. Kematian juga adalah momen liminal, yaitu peralihan antara dunia kehidupan dan kematian. Dalam fase ini, sholat istighosah, zikir dan doa menjadi alat transisi spiritual, baik bagi yang meninggal maupun yang ditinggalkan.

Praktik sholat istighosah, zikir dan doa yang sering bersifat repetitif dan melibatkan aspek emosional, membuka ruang kontemplatif dan reflektif bagi peserta. Dari perspektif Turner, momen-momen sholat istighosah, zikir dan doa bersama seperti yang dipraktekan di Kabupaten Kepulauan Selayar, menciptakan komunitas—sebuah pengalaman spiritual kolektif yang menyatukan masyarakat, bukan karena status sosial, tapi karena kesamaan rasa dan tujuan yaitu mendoakan korban aktivis yang telah pergi dan berharap pada kedamaian.

Dalam konteks bangsa, dengan menggunakan perspektif Turner, sholat istighosah, zikir dan doa sebagai ritual pengikat moral dan spiritual bangsa. Di tengah konflik dan krisis, ritual bersama ini menjadi jeda liminal—ruang masyarakat  merefleksikan arah bangsa, menyadari keterhubungan satu sama lain, dan berharap pada transformasi sosial menuju perdamaian. Sehingga sholat istighosah, zikir dan doa menjadi bentuk pengingat terus-menerus kepada Allah SWT, sedangkan doa adalah pengungkapan harapan dan permohonan kepada-Nya. Keduanya merupakan bentuk ibadah yang sangat personal, namun dalam praktik sosial-keagamaan masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, sholat istighosah, zikir dan doa sering dilakukan secara kolektif. Ritual ini tidak hanya bertujuan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kultural yang kuat. Karena dalam setiap lantunan doa, tersimpan harapan bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bangsa. Di sinilah sholat istighosah, zikir dan doa bertransformasi menjadi ritual nasional yang menyatukan identitas moral dan spiritual masyarakat.

Baca Juga :  Tak Ingin Aktivitas Terhenti, Pemkot Makassar Percepat Penanganan Banjir

Dengan demikian, baik dari perspektif Malinowski maupun Turner, sholat istighosah, zikir dan doa bagi yang telah meninggal dan keprihatinan terhadap masa depan Indonesia, bukan hanya bentuk ibadah individual, melainkan bagian dari dinamika sosial dan spiritual bangsa. Dari “Negeri Tempat Berdoa (Tana Doang)” Selayar, sholat istighosah, zikir san doa tersebut mampu meredakan kecemasan, memperkuat struktur sosial, dan menciptakan stabilitas. Sholat istighosah, zikir dan doa tersebut menjadi pengingat liminal yang membuka potensi perubahan dan menghadirkan komunitas yang bisa menginspirasi kedamaian dan harapan. Karena, dalam dunia yang penuh konflik dan gejolak seperti di Indonesia saat ini, ritual sederhana seperti sholat istighosah, zikir dan doa bisa menjadi pernyataan diam namun kuat, bahwa bangsa ini masih punya harapan—dalam kenangan akan yang telah tiada, dan dalam doa yang tidak pernah putus untuk masa depan yang damai.

Berita Terkait

Peduli Kesehatan dan Kemanusiaan, TP PKK Jeneponto Turun Langsung ke Masyarakat
Pemkab Jeneponto Luncurkan Logo dan Tema Hari Jadi ke-163: A’bulo Sibatang, Ikhlas dan Bahagia
Buruh Tak Lagi Turun ke Jalan: Pemkot Makassar Siapkan Kegiatan Dialog dan Festival Saat May Day
Munafri–Aliyah Hadirkan Lampu Tenaga Surya di Kepulauan, Armada Laut Segera Terwujud
Demi Sawah Petani Tetap Hijau, Bupati Paris Yasir Turunkan Damkar dan Optimalkan Air Kareloe
Wamenhaj Tekankan Kesiapan Mental dan Orientasi Layanan, PPIH Siap Sukseskan Pelaksanaan Haji 2026
Penertiban Humanis di Tallo, Lapak di Atas Drainase Ditata, Sebagian Dibongkar Mandiri
Melalui Monev: Wali Kota Makassar Warning Kinerja OPD, Tekankan Harus Berdampak Nyata Bagi Masyarakat
Berita ini 66 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 16:33 WIB

Peduli Kesehatan dan Kemanusiaan, TP PKK Jeneponto Turun Langsung ke Masyarakat

Senin, 20 April 2026 - 16:28 WIB

Pemkab Jeneponto Luncurkan Logo dan Tema Hari Jadi ke-163: A’bulo Sibatang, Ikhlas dan Bahagia

Senin, 20 April 2026 - 16:16 WIB

Buruh Tak Lagi Turun ke Jalan: Pemkot Makassar Siapkan Kegiatan Dialog dan Festival Saat May Day

Minggu, 19 April 2026 - 15:48 WIB

Munafri–Aliyah Hadirkan Lampu Tenaga Surya di Kepulauan, Armada Laut Segera Terwujud

Jumat, 17 April 2026 - 20:40 WIB

Wamenhaj Tekankan Kesiapan Mental dan Orientasi Layanan, PPIH Siap Sukseskan Pelaksanaan Haji 2026

Berita Terbaru

Ketua terpilih PK KNPI Mariso, Muhammad Irfan Rahman

Uncategorized

Sempat Tertunda Beberapa Bulan, Irfan Rahman Resmi Pimpin KNPI Mariso

Minggu, 19 Apr 2026 - 18:05 WIB