Makassar, allnatsar.id – Bidang Pertahanan dan Ideologi Pemuda DPD KNPI Kota Makassar secara resmi menyatakan sikap menolak keras rencana kedatangan Dandhy Laksono, sutradara film “Pesta Babi”, di Kota Makassar.
Penolakan ini didasari atas kekhawatiran terhadap dampak konten film tersebut yang dinilai provokatif dan berpotensi memecah belah opini publik.
Ketua Bidang Pertahanan dan Ideologi Pemuda DPD KNPI Makassar, Irwan Abbas, menegaskan bahwa stabilitas sosial di tingkat akar rumput, terutama di kalangan pemuda, harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, narasi yang dibangun dalam film tersebut berisiko menciptakan polarisasi yang tajam.
“Kami mencermati bahwa film ini dapat menimbulkan perpecahan opini yang tidak produktif di masyarakat, khususnya di kalangan pemuda. Mengingat kondisi geopolitik bangsa kita yang sedang dalam fase krusial, kita tidak butuh tontonan yang justru memicu sentimen negatif antar-kelompok,” ujar Irwan Abbas dalam keterangan resminya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Bidang Pertahanan dan Ideologi, Akhmad Kurnia, menambahkan bahwa penolakan ini bukan tanpa alasan.
Ia menyoroti banyaknya kecaman yang muncul di berbagai daerah lain sebagai indikator bahwa karya tersebut memicu kegaduhan.
“Di banyak tempat, pemutaran film ini telah menuai protes keras, baik dari kalangan akademisi kampus maupun aparat keamanan. Kami tidak ingin kegaduhan serupa terjadi di Makassar. Sebagai pemuda, sudah sepatutnya kita menjadi garda terdepan dalam menjaga kondusifitas dan kenyamanan kota ini agar tetap aman bagi seluruh warga,” tegas Akhmad.
DPD KNPI Kota Makassar menilai bahwa kebebasan berekspresi memang dijamin oleh undang-undang, namun kebebasan tersebut tidak boleh mencederai semangat persatuan nasional.
Di tengah situasi geopolitik yang dinamis, pemuda diharapkan lebih selektif dalam menyerap informasi yang dapat mengganggu kohesi sosial.
KNPI Makassar mengajak seluruh elemen pemuda untuk tetap tenang dan mengedepankan dialog yang konstruktif daripada terjebak dalam narasi-narasi yang memancing konflik horizontal.
Fokus utama pemuda saat ini seharusnya adalah kolaborasi membangun daerah, bukan justru larut dalam polemik yang dipicu oleh pihak-pihak luar yang tidak memahami karakteristik sosial budaya masyarakat Makassar yang menjunjung tinggi nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi.









