Mengabdi 16 Tahun, Tenaga Honorer Dipecat: Komisi E DPRD Sulsel Kritik Kinerja Dinas Pendidikan

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Komisi E DPRD Sulsel dalam RDP terkait pemecatan tenaga honorer

Foto: Komisi E DPRD Sulsel dalam RDP terkait pemecatan tenaga honorer

Makassar, allnatsar.id – Komisi E DPRD Sulsel menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk menindaklanjuti aduan masyarakat yang disampaikan Barisan Muda Kesehatan Indonesia (BMKI) terkait nasib tenaga administrasi non-ASN dan guru.

Rapat dipimpin Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel Sofyan Syam didampingi anggota komisi lainnya, yakni Andi Patarai Amir, Asman, dan Fatmawati Wahyuddin di Gedung sementara DPRD Sulsel Kamis (08/01/2026).

Ketua BMKI Sulsel, Irham Tompo menjelaskan bahwa sejumlah tenaga administrasi non-ASN dan guru telah mengabdi selama bertahun-tahun, namun belum mendapatkan kepastian status serta hak secara proporsional. Dia juga mengungkap adanya guru yang diberhentikan tanpa melalui prosedur peringatan administrasi.

“Beberapa guru telah mengabdi belasan tahun, bahkan hingga 16 tahun, namun diberhentikan tanpa prosedur yang jelas seperti SP1 atau SP2, padahal mereka telah terdata di BKN,” ujarnya.

Selain itu, Irham menyoroti adanya peserta seleksi PPPK yang sempat dinyatakan lulus, namun kelulusannya dibatalkan pada tahap akhir akibat persoalan administrasi. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan kerugian, baik secara materiil maupun psikologis.

Baca Juga :  DPP KEPMI Bone Klarifikasi Isu Dana Hibah: Tegaskan Tidak Pernah Mencairkan

Salah seorang mantan guru SMA Negeri 10 Makassar, Jufriadi, turut menyampaikan keluhannya dalam RDP. Dia mengaku diberhentikan pada 8 Maret 2023 tanpa melalui tahapan evaluasi maupun surat peringatan, setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai guru dan staf tata usaha.

Akibat pemberhentian tersebut, Jufriadi mengaku kehilangan kesempatan mengikuti seleksi PPPK karena tidak memiliki Surat Keputusan (SK) terakhir yang menjadi syarat unggah dokumen.

“Saya merasa diberhentikan secara sepihak tanpa proses evaluasi. Dampaknya hingga kini, saya tidak bisa mendaftar PPPK karena tidak memiliki SK terakhir,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kasubag Umum Dinas Pendidikan Sulsel, Andi Fahruddin, menjelaskan bahwa pembatalan kelulusan sejumlah peserta PPPK terjadi setelah dilakukan verifikasi lanjutan oleh inspektorat. Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 32 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat administrasi karena tidak memiliki SK berturut-turut selama dua tahun.

“Terkait kasus SMA Negeri 10 Makassar, kami baru menerima informasi dan belum ada laporan resmi ke bagian hukum. Karena itu, sebaiknya pihak sekolah dihadirkan agar penjelasan dapat diperoleh secara utuh,” jelasnya.

Baca Juga :  Kolaborasi Pemkot Makassar & Putera Sampoerna Foundation Wujudkan Pendidikan Unggul

Sementara itu, Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Andi Patarai Amir, meminta agar pihak sekolah yang bersangkutan dihadirkan dalam rapat selanjutnya guna mengklarifikasi dasar pemberhentian. Dia juga menambahkan bahwa dalam masalah tersebut dirinya dua kali menelpon secara langsung ke Kadis Pendidikan, Kepala dinas menjawab ketika di telpon “Siap pak dewan saya bantu”, tetapi dalam keyataannya tidak ada bantuannya. Seakan Kepala Dinas hanya berjanji tapi tidak ditepati ucap Andi Patarai Amir.

Akibat pemberhentian tersebut, Jupriadi mengaku kehilangan kesempatan mengikuti seleksi PPPK karena tidak memiliki Surat Keputusan (SK) terakhir yang menjadi syarat unggah dokumen.

Di sisi lain, Kepala Bidang Pengadaan, Pemberhentian, dan Informasi Kepegawaian BKD Sulsel, Yessy Yoanna Ariestiani, menegaskan bahwa peluang mengikuti PPPK paruh waktu telah tertutup bagi mereka yang tidak mengikuti seleksi. Ia juga menekankan bahwa penggunaan SK non-ASN sudah tidak lagi diperbolehkan.

Berita Terkait

Sambut Ramadan, Wali Kota Munafri Keluarkan Edaran Wajib Tutup Sementara Karaoke, Refleksi dan Panti Pijat Mulai 17 Februari 2026
Kadisdik Makassar: Libur Ramadan Disesuaikan, Pendidikan Karakter Tetap Prioritas
Pesan Munafri ke Istri Camat: Jangan Tambah Beban di Rumah, Dukung Suami Capai Target Kinerja
Wali Kota Munafri Minta Sekolah Perkuat Edukasi Gizi dan Kesehatan Anak Lewat UKS dan MBG
Walikota Munafri Respon Aspirasi Warga, Rp4 Miliar untuk Perbaikan Jalan di Romang Tangayya
Pemkot Makassar Prioritas Program Strategis 2026, Fokus Pendidikan, Kesehatan Hingga Infrastruktur
Dengar Suara Warga, Appi Gerak Cepat Benahi Jalan Rusak di Jalan Metro, Dipuji Netizen
Pemkot Tertibkan Lapak Kambing di Dekat MAN Makassar, Fungsikan Trotoar Bagi Pejalan Kaki
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:07 WIB

Sambut Ramadan, Wali Kota Munafri Keluarkan Edaran Wajib Tutup Sementara Karaoke, Refleksi dan Panti Pijat Mulai 17 Februari 2026

Senin, 16 Februari 2026 - 15:10 WIB

Kadisdik Makassar: Libur Ramadan Disesuaikan, Pendidikan Karakter Tetap Prioritas

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:41 WIB

Pesan Munafri ke Istri Camat: Jangan Tambah Beban di Rumah, Dukung Suami Capai Target Kinerja

Jumat, 13 Februari 2026 - 13:27 WIB

Wali Kota Munafri Minta Sekolah Perkuat Edukasi Gizi dan Kesehatan Anak Lewat UKS dan MBG

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:09 WIB

Walikota Munafri Respon Aspirasi Warga, Rp4 Miliar untuk Perbaikan Jalan di Romang Tangayya

Berita Terbaru