Ramadhan dan Dignity: Saat Kehormatan Umat Islam Diuji oleh Kekuatan Politik dan Dominasi Militer

- Jurnalis

Selasa, 3 Maret 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makassar, allnatsar.id – Di saat jutaan umat Muslim sedang menahan lapar dan dahaga, menundukkan hati dalam doa, dan merenungkan nilai-nilai kemanusiaan di bulan Ramadhan, dunia tercengang oleh berita kekerasan berskala besar yang mengguncang Timur Tengah. Amerika Serikat bersama sekutunya, terutama Israel, telah melancarkan serangan udara masif ke Iran, operasi yang dilabeli Epic Fury, yang menewaskan tokoh tertinggi negara itu dan menghancurkan ratusan target strategis, termasuk infrastruktur militer dan fasilitas lainnya di berbagai wilayah Iran.

Serangan itu menimbulkan gelombang kebangkitan konflik dan pembalasan di seluruh kawasan serta menuai protes keras dari berbagai pihak di dunia internasional, tidak terkecuali didalam negara Amerika sendiri melalui rakyatnya yang tidak bersimpati dengan keputusan Trump yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Begitu dalam luka itu merobek, pertanyaan yang paling mendasar muncul, apa nilai keberagamaan dan kemanusiaan jika nyawa dan martabat manusia bisa direndahkan di bulan suci, tanpa memperhatikan hukum internasional dan proses diplomasi?

Serangan besar-besaran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah pejabat lainnya bukan sekadar insiden militer, melainkan penghancuran simbol kedaulatan sebuah bangsa di saat umat Muslim seluruh dunia tengah mengagungkan nilai kemanusiaan dan ketakwaan. Sehingga dapat dikategorikan sebagai pelecehan agama dan kemanusiaan.

Ramadhan mengajarkan umat untuk menjadi pribadi yang menjaga martabat dan kehormatan , bukan sekadar menjalankan ritual. Allah SWT berfirman tentang martabat manusia yang dijunjung tinggi:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”(QS. Al-Isra’: 70)

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap manusia, tanpa memandang agama atau bangsa, memiliki kehormatan yang tidak boleh dilanggar. Ketika serangan militer secara sepihak menimbulkan korban sipil dan merusak kehidupan masyarakat, maka nilai dasar kemanusiaan ini telah diinjak-injak dengan alasan politik atau keamanan. Martabat ata kehormatan itu bukan hanya milik satu bangsa, tetapi milik umat manusia secara global.

Tak hanya itu, ketika kekuasaan besar menggunakan dominasi militer sebagai alat bagiannya sendiri, itu menjadi pertanyaan serius atas konsistensi hukum internasional dan etika global. Pakar internasional menilai tindakan semacam ini menjadi ujian terhadap kredibilitas norma perdamaian yang selama ini dijunjung tinggi oleh lembaga-lembaga internasional seperti Board of Peace, bahkan sering dicitrakan sebagai penjaga stabilitas dunia, sebuah paradoks yang mencuaikan kata damai namun menghidupkan api agresi.

Baca Juga :  Perkuat Sinergitas, Asisten Pidana Militer Kejati Sulsel Audiensi dengan Wali Kota Makassar

Penghormatan terhadap nyawa manusia bukan hanya sekadar slogan dalam perjanjian internasional, tetapi juga prinsip moral yang harus dijaga dengan serius. Nabi Muhammad SAW. sendiri menegaskan etika perang yang penuh batas dan larangan terhadap pembunuhan warga sipil:
لَا تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلَا طِفْلًا صَغِيرًا وَلَا امْرَأَةً
“Janganlah kalian membunuh orang tua renta, anak kecil, dan perempuan.”(HR. Abu Dawud).

Hadis ini menjadi pembatas moral yang sangat tinggi bahkan jauh sebelum hukum perang modern terbentuk. Jika kita menakar realitas di lapangan , dimana ledakan-ledakan mengguncang kota di saat ijtima’ doa, itu seakan menjadi pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan yang harus dilindungi, bukan dihancurkan seperti dalm agresi brutal Amerika dan Israel.

Dalam konteks ini, martabat umat tak hanya diuji oleh deretan frasa diplomatik dan retorika kekuatan militer, tapi oleh tindakan nyata bahwa suara kehidupan lebih dihargai daripada dominasi geopolitik. Islam mengajarkan bahwa pertahanan diri dan keadilan harus mencapai keseimbangan.

Allah SWT berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini memerintahkan umat untuk tetap berlaku adil bahkan di kala amarah dan protes membuncah. Kritik terhadap kekuasaan global yang menjalankan operasi militer semacam itu bukan sekadar protes politik, tetapi seruan moral atas pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan kehormatan manusia.

Sementara itu, dalam perdebatan di negara-negara besar sendiri, ada penolakan dan protes terhadap keputusan tersebut, termasuk dari mantan pejabat pemerintahan yang menganggap serangan itu sebagai langkah berbahaya yang tidak didukung oleh rakyatnya. Ini menunjukkan bahwa bahkan di balik kekuatan besar pun terdapat suara hati nurani yang menolak agresi semacam itu.

Baca Juga :  Munafri: UMKM Diberi Ruang di Festival Mulia Ramadan, Semarakkan Perputaran Ekonomi Hidup

Di tengah konflik dan kecaman, umat Muslim di seluruh penjuru dunia mengingat kembali tanggung jawab moral mereka, bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi tentang memperteguh dignity kemanusiaan dan menolak dominasi yang merendahkan hak hidup manusia.

Kehormatan dan martabat seorang Muslim dan seorang manusia sejatinya tak boleh ditawar oleh kepentingan politik, apalagi dengan alasan perlindungan keamanan semata. Hukum internasional, Piagam PBB, dan konvensi global lain mengatur bahwa penggunaan kekuatan militer harus memiliki dasar hukum, mandat legitimasi, atau persetujuan bersama, karena tanpa itu, tindakan semacam ini berpotensi menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lebih adil dan damai.

Umat Islam menolak perlakuan yang merendahkan kedudukan manusia sebagai bani Adam, yang kehidupannya Allah muliakan. Penyerangan itu bukan sekadar kesalahan strategi politik, ia merobek tatanan moral dan menyakiti perasaan jutaan hati yang tetap menjaga keimanan dan martabatnya.

Ramadhan mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tak akan pernah kalah oleh kekuatan mesin dan bom.Harga diri itu hadir dalam suara yang menolak kezaliman, dalam seruan yang memperjuangkan keadilan, dan dalam kesetiaan terhadap prinsip yang abadi, bahwa nyawa manusia, darahnya, kehormatannya, dan hak hidupnya bukanlah komoditas tawar-menawar kekuasaan. Ia adalah amanah Ilahi yang melekat pada setiap insan sebagai bani Adam yang dimuliakan.

Dalam momentum Ramadhan ini, umat Islam dituntut untuk tidak sekadar bersedih atau marah, tetapi mengokohkan kesadaran moral bahwa kekuatan sejati bukanlah pada superioritas senjata, melainkan pada keberanian menegakkan keadilan dan menjaga kemuliaan manusia.

Ramadhan menghadirkan muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi setiap keputusan dan tindakan. Maka siapa pun yang memiliki kuasa, hendaknya menimbangnya dengan timbangan takwa, dan siapa pun yang menjadi korban, hendaknya menguatkan diri dengan kesabaran dan solidaritas kemanusiaan global.

Di sinilah dignity umat diuji, apakah kita hanya menjadi penonton sejarah, atau menjadi penjaga nilai yang terus bersuara atas nama keadilan. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling setia pada prinsip kemanusiaan dan keadilan.

(Oleh Prof. Munawir Kamaluddin)

Berita Terkait

Dukungan Pemuda: PK KNPI Tamalate Puji Arah Pembangunan Kota di Bawah Kepemimpinan Walikota Munafri Arifuddin
Setahun Berjalan, Pemerintahan MULIA Tunjukkan Perubahan Nyata di Berbagai Sektor
Forum Ketahanan Nasional (FORTANAS) Kota Makassar Dukung Penuh Langkah Pemkot Makassar dan TNI-POLRI dalam Pencegahan Konflik Antar Kelompok
Diplomasi Strategis: Makna Kedatangan Macron dan Pertemuan dengan Prabowo
Berita ini 83 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 08:53 WIB

Ramadhan dan Dignity: Saat Kehormatan Umat Islam Diuji oleh Kekuatan Politik dan Dominasi Militer

Sabtu, 21 Februari 2026 - 07:58 WIB

Dukungan Pemuda: PK KNPI Tamalate Puji Arah Pembangunan Kota di Bawah Kepemimpinan Walikota Munafri Arifuddin

Jumat, 20 Februari 2026 - 19:38 WIB

Setahun Berjalan, Pemerintahan MULIA Tunjukkan Perubahan Nyata di Berbagai Sektor

Sabtu, 22 November 2025 - 10:59 WIB

Forum Ketahanan Nasional (FORTANAS) Kota Makassar Dukung Penuh Langkah Pemkot Makassar dan TNI-POLRI dalam Pencegahan Konflik Antar Kelompok

Minggu, 1 Juni 2025 - 12:42 WIB

Diplomasi Strategis: Makna Kedatangan Macron dan Pertemuan dengan Prabowo

Berita Terbaru