Silaturahim atau Sinyal Politik? Membaca Kehadiran Anies di Cikeas

- Jurnalis

Sabtu, 28 Maret 2026 - 12:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makasssar, allnatsar.id – Kehadiran Anies Baswedan dalam acara halal bihalal di Cikeas bukan sekadar peristiwa sosial keagamaan biasa. Dalam wajah politik Indonesia yang sarat simbol, setiap pertemuan elite hampir selalu mengandung pesan, baik yang tersurat maupun yang sengaja dibiarkan menggantung.

Secara normatif, halal bihalal adalah ruang silaturahim, tradisi khas Indonesia yang mengedepankan rekonsiliasi dan penguatan ukhuwah.

Dalam kerangka ini, kehadiran Anies bisa dibaca sebagai gestur kultural: merawat relasi, memperluas jejaring, dan menjaga etika politik pasca kontestasi. Terlebih, Cikeas selama ini identik dengan orbit kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat—sebuah titik penting dalam peta koalisi nasional.
Namun, membaca peristiwa ini semata sebagai silaturahim justru terlalu naif.

Politik Indonesia hari ini tidak pernah benar-benar “libur”. Bahkan dalam momen keagamaan, komunikasi politik tetap berlangsung—lebih halus, lebih simbolik, tetapi tidak kehilangan substansi. Dalam perspektif ini, kehadiran Anies di Cikeas dapat dipahami sebagai bagian dari long game menuju 2029.
Ada beberapa lapisan makna yang patut dicermati:

Baca Juga :  Forum Ketahanan Nasional (FORTANAS) Kota Makassar Dukung Penuh Langkah Pemkot Makassar dan TNI-POLRI dalam Pencegahan Konflik Antar Kelompok

Pertama, konsolidasi jaringan pasca Pilpres 2024.
Anies membutuhkan ruang untuk menjaga relevansi politiknya. Pertemuan dengan lingkaran Cikeas menunjukkan bahwa ia masih menjadi aktor penting yang diperhitungkan dalam konfigurasi kekuatan nasional.
Kedua, sinyal rekonsiliasi dan kemungkinan koalisi.

Politik Indonesia sangat cair. Tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Cikeas adalah simbol dari kekuatan politik yang pernah berjarak, tetapi kini membuka ruang dialog. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan potensi arsitektur baru koalisi.

Ketiga, komunikasi simbolik kepada publik.
Dalam politik modern, citra adalah kapital. Kehadiran di acara keagamaan bersama tokoh-tokoh nasional membangun narasi bahwa Anies adalah figur inklusif, terbuka, dan siap merangkul berbagai kekuatan—modal penting untuk kontestasi mendatang.

Meski demikian, terlalu dini menyimpulkan bahwa ini adalah langkah eksplisit menuju Pilpres 2029. Politik memiliki ritme sendiri, dan seringkali apa yang tampak sebagai strategi besar hanyalah bagian dari manajemen hubungan jangka pendek.

Baca Juga :  Ramadhan dan Dignity: Saat Kehormatan Umat Islam Diuji oleh Kekuatan Politik dan Dominasi Militer

Di sinilah letak paradoksnya:

Silaturahim dan politik di Indonesia bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling berkelindan. Silaturahim menjadi medium politik, dan politik membungkus dirinya dalam etika silaturahim.
Maka, pertanyaan “murni silaturahim atau agenda politik?” mungkin tidak tepat.

Yang lebih relevan adalah: seberapa jauh silaturahim itu dimanfaatkan sebagai instrumen politik?
Dan dalam konteks Anies di Cikeas, jawabannya barangkali sederhana namun tajam:
ini adalah silaturahim yang sadar politik—atau politik yang dikemas dalam silaturahim.

Publik tentu berhak menafsirkan. Tetapi satu hal pasti, dalam politik Indonesia, tidak ada pertemuan elite yang benar-benar tanpa makna. Bahkan dalam senyapnya halal bihalal, arah masa depan bisa mulai dirumuskan.

.

Oleh Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

Berita Terkait

Soal Perbedaan Idulfitri, Pemuda Makassar Deng Joe Serukan Jaga Persatuan di Tengah Perbedaan
10 Hari Terakhir Ramadan, Lebih Penting Baju Baru atau Pribadi yang Baru?
Ramadhan dan Dignity: Saat Kehormatan Umat Islam Diuji oleh Kekuatan Politik dan Dominasi Militer
Dukungan Pemuda: PK KNPI Tamalate Puji Arah Pembangunan Kota di Bawah Kepemimpinan Walikota Munafri Arifuddin
Setahun Berjalan, Pemerintahan MULIA Tunjukkan Perubahan Nyata di Berbagai Sektor
Forum Ketahanan Nasional (FORTANAS) Kota Makassar Dukung Penuh Langkah Pemkot Makassar dan TNI-POLRI dalam Pencegahan Konflik Antar Kelompok
Diplomasi Strategis: Makna Kedatangan Macron dan Pertemuan dengan Prabowo
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 12:13 WIB

Silaturahim atau Sinyal Politik? Membaca Kehadiran Anies di Cikeas

Jumat, 20 Maret 2026 - 16:33 WIB

Soal Perbedaan Idulfitri, Pemuda Makassar Deng Joe Serukan Jaga Persatuan di Tengah Perbedaan

Jumat, 13 Maret 2026 - 15:22 WIB

10 Hari Terakhir Ramadan, Lebih Penting Baju Baru atau Pribadi yang Baru?

Selasa, 3 Maret 2026 - 08:53 WIB

Ramadhan dan Dignity: Saat Kehormatan Umat Islam Diuji oleh Kekuatan Politik dan Dominasi Militer

Sabtu, 21 Februari 2026 - 07:58 WIB

Dukungan Pemuda: PK KNPI Tamalate Puji Arah Pembangunan Kota di Bawah Kepemimpinan Walikota Munafri Arifuddin

Berita Terbaru