Makassar, allnatsar.id — Pelaksanaan puncak Dies Natalis Universitas Negeri Makassar (UNM) ke-65 mendapat sorotan dari sejumlah alumni.
Sorotan tersebut mencuat setelah foto dan testimoni Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Negeri Makassar (IKA UNM) tidak terlihat dalam materi publikasi kegiatan puncak Dies Natalis UNM ke-65.
Bagi sejumlah alumni, persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis publikasi. Mereka menilai, ketua panitia dies natalis UNM sengaja menghilangkan foto, testimoni dan sambutan Ketua Umum IKA UNM merupakan bagian integral dari keluarga besar UNM sehingga keberadaannya patut mendapatkan penghormatan dan ruang yang proporsional dalam momentum penting universitas.
“Ini bukan hanya soal ada atau tidak adanya sebuah foto. Yang kami persoalkan adalah nilai penghormatan terhadap institusi IKA UNM. Dalam momentum sebesar Dies Natalis, semestinya seluruh elemen keluarga besar UNM dapat dirangkul dan dihargai,” ujar salah seorang alumni yang enggan disebut namanya.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan desakan agar pimpinan UNM melakukan evaluasi terhadap kinerja kepanitiaan Dies Natalis ke-65, khususnya terkait komunikasi dan koordinasi dengan berbagai unsur keluarga besar UNM.
Sejumlah alumni bahkan meminta agar Ketua Panitia Dies Natalis UNM ke-65 dievaluasi dan, apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika organisasi atau persoalan serius dalam pelaksanaan tugas, dapat dipertimbangkan pergantian kepanitiaan sesuai mekanisme yang berlaku.
Mereka menilai, kegiatan Dies Natalis merupakan agenda besar universitas yang seharusnya menjadi momentum mempererat persatuan, bukan justru menimbulkan polemik di antara elemen keluarga besar UNM.
“Ketua panitia harus memiliki kemampuan komunikasi dan memahami etika organisasi. Jangan sampai ada pihak yang merasa tidak dihargai atau diabaikan. Kami berharap pimpinan UNM mengambil langkah evaluasi secara objektif,” lanjutnya.
Alumni juga mengingatkan agar setiap kritik terhadap kepanitiaan tidak dipandang sebagai upaya untuk memperkeruh suasana. Menurut mereka, kritik merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan dan marwah institusi UNM.
Mereka berharap persoalan ini dapat segera diklarifikasi oleh pihak panitia dan pimpinan universitas.
Klarifikasi dinilai penting agar tidak muncul kesimpulan sepihak serta memberikan ruang kepada semua pihak untuk menyampaikan penjelasan secara terbuka.
“UNM adalah rumah besar kita bersama. Karena itu, siapa pun yang dipercaya mengemban amanah dalam kepanitiaan harus mampu menjaga persatuan, menghormati seluruh elemen, dan mengedepankan etika organisasi,” tegas alumni tersebut.
Sejumlah alumni meminta agar ke depan setiap kegiatan besar UNM dikelola oleh figur yang memiliki kemampuan manajerial, komunikasi, dan pemahaman yang baik terhadap tata kelola organisasi.
Mereka juga berharap momentum Dies Natalis UNM ke-65 dapat menjadi titik evaluasi untuk memperkuat sinergi antara pimpinan universitas, sivitas akademika, mahasiswa, dan alumni.
Ketua panitia ini kacau karena menghilangkan publikasi dan sejarah prestasi rektor-rektor UNM sebelumnya. Harusnya itu yang di tonjolkan biar menjadi evaluasi dan proyeksi membangun universitas yang lebih baik kedepannya.
Melupakan rentetan prestasi rektor-rektor adalah kejahatan sejarah karena menjadi ahistoris kepemimpinan kedepannya. Tentu arigansi ini harus di hilangkan di kampus oranges UNM jika mau berlayar dengan baik.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari Ketua Panitia Dies Natalis UNM ke-65 maupun pihak pimpinan UNM terkait sorotan alumni tersebut. Ruang klarifikasi dan hak jawab tetap terbuka bagi pihak-pihak yang disebutkan.









