Jakarta, allnatsar.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Selasa pagi, (5/5/2026). Berdasarkan data pasar, rupiah terkoreksi sebesar 11 poin atau 0,07 persen menjadi berada di level Rp17.405 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.394 per dolar AS.
Pelemahan ini terutama dipicu oleh faktor eksternal yang hingga kini masih membayangi pasar keuangan global. Salah satu sentimen utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur, khususnya konflik antara Ukraina dan Rusia.
Dalam beberapa waktu terakhir, Ukraina dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Rusia, termasuk wilayah-wilayah penghasil dan pengolahan minyak.
Serangan menggunakan drone yang menargetkan kilang-kilang minyak Rusia dinilai telah mengganggu stabilitas pasokan energi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan harga minyak dunia serta dampaknya terhadap inflasi global.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor untuk cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga turut dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih cenderung ketat.
Sikap bank sentral AS yang berhati-hati dalam menurunkan suku bunga membuat arus modal global lebih banyak mengalir ke negeri Paman Sam, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup solid. Namun, derasnya tekanan dari eksternal membuat rupiah belum mampu keluar dari tren pelemahan jangka pendek.
Pelaku pasar pun kini menanti langkah lanjutan dari otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan.
Pengamat menilai, selama ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global masih berlangsung, pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif.
Oleh karena itu, kewaspadaan pelaku pasar tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berkembang.








