Makassar, allnatsar.id – Keberhasilan kurir narkoba jaringan internasional berinisial DD meloloskan sabu seberat 1,45 kilogram melalui jalur penerbangan udara memicu gelombang kritik tajam.
Insiden ini dinilai sebagai tamparan keras bagi sistem keamanan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sekaligus memunculkan dugaan adanya “main mata” antara pelaku dengan oknum petugas di lapangan.
Kasus ini terungkap setelah Satresnarkoba Polrestabes Makassar melakukan operasi besar-besaran yang berujung pada penangkapan tujuh orang tersangka. Salah satu tersangka, DD, mengaku membawa barang haram tersebut langsung dari Tanjung Pinang.
Yang mengejutkan, DD mampu melewati seluruh rangkaian pemeriksaan ketat di bandara hanya dengan menyembunyikan sabu tersebut di dalam ikat pinggang. Kelolosan barang bukti dalam jumlah signifikan ini dianggap tidak masuk akal jika sistem pengamanan berfungsi secara optimal.
Ketua HMI Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), Syarif, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kecurigaan atas lemahnya pengawasan tersebut.
“Kami menduga ada kerja sama atau permainan antara kurir dengan oknum pihak keamanan bandara. Tidak mungkin barang haram itu bisa lolos begitu saja dari deteksi keamanan. Jika modus sesederhana disimpan di ikat pinggang saja bisa lolos, maka integritas pengawasan di bandara patut dipertanyakan secara serius,” tegas Syarif kepada media, Jumat (15/5/2026).
Syarif menambahkan bahwa kejadian ini menjadi bukti rapuhnya benteng pertahanan pintu masuk Sulawesi Selatan terhadap peredaran narkotika.
Ia mendesak otoritas bandara dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi total dan investigasi internal guna memastikan apakah ada oknum yang memfasilitasi jalur pelarian narkoba tersebut.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, mengungkapkan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan intensif terhadap jaringan narkoba internasional di Kota Makassar.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka DD mengakui menjemput langsung narkotika tersebut di Tanjung Pinang dan membawanya masuk ke Makassar,” ujar Kombes Arya Perdana.
Kejadian ini menjadi sinyal merah bagi keamanan objek vital nasional. Jika celah keamanan di bandara tidak segera dibenahi dan aktor-aktor yang terlibat (jika ada) tidak ditindak tegas, maka bandara akan tetap menjadi pintu masuk yang nyaman bagi jaringan narkoba internasional untuk merusak generasi bangsa di Sulawesi Selatan.
Publik kini menunggu langkah nyata dari pihak pengelola Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk memberikan penjelasan transparan mengenai bagaimana protokol keamanan mereka bisa ditembus dengan begitu mudah.









