Makassar, allnatsar.id — Sebuah gagasan besar tengah disiapkan Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Selatan untuk menandai perjalanan panjang organisasi dan kaderisasi HMI di Sulsel.
Bertepatan dengan momentum Milad KAHMI ke-60 tahun ini, gedung Graha Hijau Hitam di kawasan Talasalapang, Kecamatan Rappocini Kota Makassar direncanakan segera diluncurkan.
Rencana tersebut disampaikan Koordinator Presidium MW KAHMI Sulsel, Ir. Fadriaty AS, ST., MM, saat memberikan sambutan pada penutupan diskusi publik bertema “Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah” yang digelar Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) MW KAHMI Sulsel, Jumat (4/9/2026) malam.
“Insya Allah dalam waktu dekat, pada momentum Milad KAHMI ke-60 tahun ini, kita akan melaunching gedung Graha Hijau Hitam milik HMI dan KAHMI di Talasalapang. Mohon didoakan semoga semuanya lancar,” kata Fadriaty, yang akrab disapa Enceng.
Namun, Graha Hijau Hitam bukan sekadar proyek pembangunan sebuah gedung. Di balik rencana tersebut terdapat cerita tentang hibah, amanah organisasi dan ikhtiar menyiapkan ruang yang dapat digunakan lintas generasi HMI dan KAHMI.
Fadriaty mengisahkan, lahan yang kini disiapkan menjadi lokasi Graha Hijau Hitam merupakan tanah hibah dari salah seorang senior HMI Makassar, Prof. Dali Amiruddin. Sehingga lahan tersebut kemudian menjadi milik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
“Alhamdulillah, desain dan RAB gedung ini sudah rampung dan direncanakan berlantai tiga dan ada masjidnya juga,” terang Enceng.
Gedung tersebut dirancang berdiri di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi dengan kebutuhan anggaran pembangunan sekitar Rp23 miliar.
Menurut Fadriaty, kepanitiaan pembangunan juga telah dibentuk. Sejumlah rapat telah dilakukan untuk mempersiapkan agenda launching sekaligus tahapan pembangunan gedung tersebut.
Bagi Fadriaty, keberadaan Graha Hijau Hitam harus dilihat lebih jauh daripada sekadar pembangunan infrastruktur organisasi.
Lahan yang telah dihibahkan tersebut, kata dia, merupakan amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan HMI, KAHMI dan masyarakat.
“Ini adalah amanah bagi kita semua untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang telah dihibahkan demi kepentingan organisasi, pengkaderan dan tentu saja bagi ummat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader HMI dan keluarga besar KAHMI, khususnya di Sulawesi Selatan, untuk mengambil bagian dalam agenda tersebut.
Partisipasi itu diharapkan tidak hanya hadir ketika launching, tetapi juga berlanjut dalam proses pembangunan Graha Hijau Hitam ke depan.
Rencana pembangunan Graha Hijau Hitam menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur kelembagaan HMI dan KAHMI di Sulawesi Selatan.
Dengan desain gedung tiga lantai dan dilengkapi masjid, fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi berbagai aktivitas organisasi, pengkaderan dan kegiatan sosial-keumatan.
Di tengah perjalanan KAHMI yang memasuki usia enam dekade, pembangunan fasilitas tersebut sekaligus menjadi upaya meninggalkan warisan kelembagaan bagi generasi berikutnya.
Bagi keluarga besar HMI dan KAHMI, pembangunan Graha Hijau Hitam bukan hanya soal menghadirkan bangunan baru di Talasalapang.
Lebih dari itu, proyek tersebut membawa pesan tentang bagaimana sebuah hibah dari senior organisasi diteruskan menjadi aset yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi proses kaderisasi, kehidupan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Dan di momentum 60 tahun KAHMI, Fadriaty berharap ikhtiar tersebut mendapatkan dukungan seluruh keluarga besar HMI dan KAHMI.
“Mohon didoakan semoga semuanya lancar,” ucapnya.







